Selasa, 22 Februari 2011

SISTEM KOORDINASI - Alat Indra

ALAT INDERA
Alat indra merupakan reseptor yang berfungsi untuk mengenali lingkungan dan memberikan respon terhadap perubahan rangsangan yang terjadi pada lingkungan. Rangsangan dapat berasal dari luar tubuh seperti panas, sentuhan, cahaya, kelembaban dan tekanan, maupun dari dalam tubuh seperti rasa lapar, haus, lelah, kenyang, dan sebagainya.
Rangsangan yang berasal dari luar akan diterima oleh alat indra. Reseptor yang berfungsi untuk menerima rangsangan dapat dibedakan atas berikut ini.
1. Eksteroseptor (reseptor luar), yaitu reseptor yang berfungsi untuk menerima rangsangan dari luar tubuh. Organ yang berfungsi untuk mendukung fungsi ini disebut alat indra.
2. Interoreseptor (reseptor dalam), yaitu reseptor yang berfungsi untuk menerima rangsangan dari dalam tubuh.
3. Proprioreseptor, yaitu reseptor yang terdapat dalam jaringan otot.
Alat indra hanyalah sebuah alat yang berfungsi untuk menerima rangsangan, sedangkan kesan dan tanggapan atas rangsangan tersebut akan ditentukan oleh pusat saraf yang terdapat pada otak maupun sumsum tulang belakang. Maka kesempurnaan kerja alat indra sangat tergantung pada:
1. Keadaan dan kesempurnaan alat indra sebagai penerima rangsang,
2. Keadaan dan kesempurnaan urat saraf yang menghantarkan rangsangan ke pusat saraf.
3. Keadaan dan kesempurnaan pusat saraf.

Macam-macam alat indra pada manusia dan kinesthesis.
1. Indra Peraba (Tangoreseptor)
Indra peraba ditemukan pada kulit merupakan eksteroreseptor yang mampu menerima rangsangan dari luar. Ujung saraf yang terdapat pada kulit ada 6 macam.
a. Ujung saraf paccini yang berfungsi untuk menerima rangsang tekanan.
b. Ujung saraf ruffini berfungsi untuk menerima rangsang panas.
c. Ujung saraf meisner merupakan penerima rangsang peraba.
d. Ujung saraf di sekeliling akar rambut untuk peraba.
e. Ujung saraf tanpa selaput berfungsi untuk menerima rasa nyeri.
f. Ujung saraf krausi untuk menerima rangsang dingin.
2. Indra Pengecap
Indra pengecap merupakan kemoreseptor pada lidah yang dapat menerima rangsangan berupa zat yang larut. Indra ini bentuknya sebagai puting-puting pengecap (papil pengecap) yang mampu membedakan rasa manis, asin, pahit, dan asam. Selain puting-puting pengecap pada lidah ditemukan puting peraba (pupil peraba) yang tersebar di seluruh permukaan lidah. Pupil peraba berfungsi untuk membedakan tekstur makanan, panas-dingin, keras dan lunaknya makanan dan sebagainya. Daerah lidah yang terdapat puting pengecap adalah sebagai berikut.
a. Bagian tepi depan sebagai reseptor rasa manis.
b. Tepi samping untuk reseptor rasa asam.
c. Bagian depan untuk reseptor asin.
d. Bagian belakang/pangkal lidah sebagai reseptor pahit.
3. Indra Pembau
Indra pembau merupakan kemoreseptor yang terdapat pada selaput lender rongga hidung. Indra ini mampu menerima rangsangan yang berupa gas atau oflaksi. Sel-sel pembau merupakan sel yang ujungnya mempunyai rambut halus yang berhubungan dengan urat saraf yang dihubungkan dengan pusat saraf pembau.
Kerja sama yang baik dari indra pembau dan pengecap akan mempengaruhi munculnya selera makan dan mempengaruhi rasa makanan.
4. Indra Penglihat
Mata merupakan indra yang berfungsi untuk melihat. Mata berbentuk bola yang mempunyai tiga lapisan dinding. Urat dari luar dinding yang membentuk bola mata adalah sebagai berikut.
a. Sklera, yaitu lapisan terluar yang membentuk bola mata yang berwarna putih keruh. Pada bagian depannya bersifat transparan yang disebut kornea.
b. Koroid, yaitu lapisan yang terdapat di tengah yang banyak mengandung pembuluh darah untuk memasok oksigen dan makanan pada sel-sel mata. Koroid yang terletak di belakang kornea bagian tengahnya terbuka disebut pupil. Pupil dikelilingi oleh koroid yang mengandung pigmen disebut selaput pelangi (iris). Besar kecilnya pupil disebabkan oleh otot-otot melingkar yang bersifat tak sadar. Fungsi iris adalah untuk mengatur banyak sedikitnya cahaya yang masuk.
c. Retina (lapisan jala), yaitu lapisan paling dalam yang menyusun bola mata yang berfungsi sebagai fotoreseptor. Retina mempunyai dua macam sel yang peka terhadap cahaya yaitu sel basilus dan sel konus. Sel konus lebih peka terhadap cahaya dengan intensitas yang lebih tinggi. Bagian retina yang terletak pada garis sumbu mata merupakan daerah yang paling banyak mengandung ujung saraf penerima rangsang cahaya. Daerah ini disebut bintik kuning atau fovea. Pada retina juga ditemukan daerah yang tidak mengandung ujung saraf penerima rangsang cahaya dan merupakan daerah tempat pembelokan urat saraf penglihatan. Daerah itu dikenal dengan bintik buta.
Di dalam ruangan yang dibatasi oleh tiga lapisan dinding tersebut terdapat alat-alat sebagai berikut.
a. Lensa mata, yaitu bangunan yang berbentuk bikonkaf, bening dan terletak tepat di belakang pupil. Lensa ini diikat oleh otot-otot siliaris yang berfungsi untuk mengatur tebal tipisnya lensa mata.
b. Aquaeus humor, yaitu cairan yang mengisi ruangan diantara kornea dan lensa.
c. Viteus humor, yaitu cairan yang mengisi ruangan yang terletak diantara lensa mata dengan lapisan retina.




Mekanisme Melihat
Cahaya yang mengenai mata akan melalui kornea dan diteruskan melewati aquaeus humor, pupil, lensa mata, vitreus humor, dan akan jatuh pada bintik kuning yang terapat pada retina. Rangsangan yang mengenai retina ini akan diteruskan menuju ke pusat saraf penglihatan. Ketepatan jatuhnya cahaya pada fovea diatur oleh ukuran ketebalan lensa mata. Apabila cahaya mengenai retina maka rodopsin yang terdapat pada sel basilus terurai. Pembentukan kembali rodopsin memerlukan waktu dan vitamin A. waktu yang diperlukan untuk pembentukan rodopsin ini dikenal dengan waktu adaptasi rodopsin. Pada saat pembentukan rodopsin maka kemampuan mata dalam melihat akan sedikit menurun. Sel selonus mengandung iodopsin yang merupakan senyawa retinin dan opsin. Sel-sel ini peka terhadap cahaya biru, hijau, dan merah. Kerusakan pada sel ini akan mengakibatkan buta warna. Gangguan pada penglihatan.
Apabila mata mampu memfokuskan cahaya tepat pada bintik kuning, maka mata tersebut dikatakan normal (emetrop).
a. Myopia. Bayangan yang jatuh ada di depan bintik kuning karena bentuk lensa mata terlalu cembung. Orang yang mempunyai gangguan ini tidak dapat mengamati benda-benda yang jauh. Agar penglihatan dapat sempurna maka perlu dibantu dengan lensa negatif atau lensa cekung.
b. Hipermetrop. Bayangan jatuh di belakang bintik kuning karena lensa mata terlalu cekung. Gangguan ini mengakibatkan orang tidak mampu mengatao benda yang dekat. Gangguan seperti ini dapat diatasi dengan menggunakan lensa positif atau lensa cembung.
c. Presbiop. Gangguan ini disebabkan oleh menurunnya daya akomodasi karena factor usia. Gangguan ini dapat dibantu dengan menggunakan lensa bifokus.
d. Astigmatisma. Apabila kornea tidak rata maka cahaya yang masuk tidak dapat difokuskan pada bintik kuning. Gangguan ini dapat diatasi dengan lensa silindris.
e. Hemeralopia atau rabun senja, yaitu gangguan yang disebabkan oleh kekurangan vitamin A sehingga pembentukan rodopsin pasa saat kurang cahaya menjadi terhambat.
f. Seroftalmia (kornea mongering) dan keratomalasia (kornea mengelupas), gangguan ini akan muncul bila gejala kekurangan vitamin A terus berlanjut.
g. Buta warna. Gangguan yang berupa ketidakmampuan seseorang dalam membedakan warna cahaya ini merupakan gangguan yang bersifat menurun (diwariskan).
5. Indra Pendengar atau Keseimbangan
Telinga merupakan fonoreseptor dan sebagai alat keseimbangan. Bagian telinga yang berfungsi sebagai fonoreseptor (penerima rangsang bunyi) berupa sel-sel epitel yang berambut.
Telinga manusia terdiri dari tiga bagian.
a. Telinga luar yang terdiri dari daun telinga dan liang/saluran telinga. Dinding liang telinga menghasilkan minyak serumen.
b. Telinga tengah atau ruang timpani. Bagian luar dari ruangan ini dibatasi oleh gendang telinga (membrane timpani), sedangkan bagian dalamnya dibatasi oleh tingkap oval dan tingkap bulat. Diantara membrana timpani dan tingkap bulat ini terdapat tulang-tulang pendengaran. Tulang pendengaran urut dari arah luar adalah tulang martil (maleus), tulangan landasan (inkus), dan tulang sangurdi (stapes). Ketiga tulang ini membentuk rangkaian yang dapat bergetar. Ujung tulang martil melekat pada membrana timpani dan ujung tulang sangurdi yang bebas menyatu dengan tingkap bulat yang menutupi telinga bagian dalam.
Dari telinga tengah ini terdapat saluran eustachius, yaitu saluran yang menghubungkan antara ruang telinga dan rongga faring. Saluran ini berfungsi untuk menjaga tekanan udara dalam ruang telinga.
c. Telinga dalam atau labirin. Telinga dalam terdiri atas labirin tulang dan labirin selapur. Labirin tulang terdiri atas serambi (Vestibulum), saluran gulung (kanalis semisirkularis), dan rumah siput (koklea). Saluran gulung terdiri atas tigas buah saluran yang saling terkait yang berfungsi untuk menjaga keseimbangan. Koklea merupakan saluran yang berbentuk spiral seperti rumah siput yang terbagi menjadi tiga ruangan. Di dalam koklea berisi cairan dan permukaan dindingnya terdapat ujung-ujung saraf yang peka terhadap getaran yang disebut sebagai organ korti. Ruangan yang menyusun koklea adalah seperti berikut.
1) Skala vestibuli merupakan saluran yang terletak di sebelah dorsal.
2) Skala media terletak pada bagian tengah. Dalam skala media terdapat organ korti yang terdiri dari sel-sel epitel berambut dan membran tekstorial. Membran tekstorial terletak di sebelah atas dari epitel berambut. Alat korti ini tersusun berderet-deret, semakin ke arah ujung membran basalis semakin panjang dan frekuensi getaran yang diterima semakin tinggi.
3) Skala timpani terletak di bagian ventral. Skala yang satu dengan yang lain dipisahkan oleh membran yang disebut selaput labirin.
Ada tiga macam labirin
1) Membran vestibularis, yaitu membran yang memisahkan skala vestibuli dengan skala media.
2) Membran tektorial, yaitu membran yang memisahkan skala media dengan skala timpani.
3) Membran basalis, yaitu membran yang memisahkan skala timpani dengan skala vestibuli.

Proses mendengar
Ketika gelombang bunyi diterima oleh telinga, maka gelombang tersebut akan ke liang telinga dan menggetarkan membran timpani. Getaran akan diteruskan ke tulang martil, tulang landasan dan tulang sangurdi. Dari tulang sangurdi getaran akan diteruskan ke tingkap bulat, sehingga cairan yang berada do dalam koklea ikut bergetar. Getaran pada cairan koklea akan diterima oleh ujung saraf yang terdapat pada dinding koklea dan diteruskan ke otak. Otak akan mengolah stimulus dan menterjemahkan impuls tersebut sebagai bunyi.
Alat keseimbangan
Alat keseimbangan bentuknya kantung kecil yang disebut sakula dan utrikula yang dilengkapi dengan tiga buah saluran setengah lingkaran. Pangkal dari saluran setengah lingkaran ini ujungnya membesar disebut ampula yang berisi cairan limfe dan batu keseimbangan (otolit). Perubahan posisi tubuh akan menyebabkan terjadinya perubahan posisi ampula dan cairan limfa di dalamnya sehingga otolit akan bergerak. Gerakan otolit ini akan merangsang sel-sel saraf untuk diteruskan menuju saraf keseimbangan yang terdapat pada statoreseptor.
Saraf keseimbangan dan saraf pendengaran akan bersatu membentuk nervus VIII.
6. Kinestesis
Kinestesis merupakan proprioreseptor, yaitu reseptor yang terdapat pada otot, urat otot, jaringan ikat sendi, dan persendian. Kinestesis berperan dalam membantu koordinasi perasaan tertentu dengan mengatur sikap tubuh misalnya pada saat naik kendaraan kita secara refleks akan mengatur berapa besar kecilnya gas, orang yang buta atau orang memejamkan mata dapat merias wajahnya, dan lain-lain. Kinestesis akan selalu aktif walaupun seseirang sedang tidur pulas.
Kelainan pada Sistem Saraf
Kelainan pada sistem saraf dapat terjadi akibat adanya kerusakan pada sistem saraf akibat luka, penggunaan obat-obatan, atau kerusakan yang bersifat genetik. Berikut ini dijelaskan beberapa jenis kelainan pada sistem saraf yang sering dijumpai.
a. Parkinson
Penyebab penyakit ini adalah ketidakseimbangan kimia dalam sistem saraf. Parkinson diperkirakan bersifat genetic dan dapat pula disebabkan oleh pukulan keras pada kepala.
b. Multipel Sklerosis
Multipel Sklerosis adalah suatu kejadian dimana terjadi degenerasi mielin pada sistem saraf pusat. Adanya penghantaran impuls saraf menjadi terhambat dan terjadi gejala seperti hilangnya koordinasi tubuh, gangguan penglihatan, dan gangguan bicara. Penyakit ini dapat berkembang perlahan tetapi dapat pula menyerang secara tiba-tiba. Penyebabnya diperkirakan berupa kerentanan yang bersifat genetis, infeksi virus, dan gangguan sistem kekebalan tubuh.
c. Polio
Penyakit ini disebabkan oleh infeksi yang polio pada sumsum tulang belakang. Virus ini menyerang anak-anak, menimbulkan demam, dan sakit kepala yang berakhir pada hilangnya refleks, kelumpuhan, dan mengecilnya otot. Bila sudah terjadi, polio tidak dapat diobati, tetapi penyakit ini dapat dicegah dengan imunisasi polio.
d. Epilepsi
Epilepsi terjadi akibat adanya gangguan penghantaran impuls listrik pada sel-sel saraf. Kelainan ini juga dijumpai pada orang yang menderita tumor otak, trauma pada kepala, pengguna obat-obatan bius, dan penderita cacat otak bawaan.
e. Amnesia
Kecelakaan yang menyebabkan trauma pada kepala seperti geger otak dapat mengakibatkan terjadinya amnesia. Penderita biasanya mengalami kebingungan. Dan kehilangan ingatan. Amnesia ini dapat bersifat sementara, tetapi dapat pula bersifat permanen tergantung seberapa parahnya trauma yang diderita oleh otak.
f. Alzheimer
Penyakit ini biasanya diderita oleh manula. Gejala berupa hilang ingatan, sehingga menyebabkan depresi, kebingungan, menurunnya kemampuan berpikir, dan halusinasi. Penyebabnya adalah penurunan jumlah senyawa kimia yang membantu penghantaran impuls saraf. Alzheimer ini bersifat genetis.
g. Meningitis
Pada penderita meningitis, terjadi infeksi virus dan bakteri pada meninges (selaput yang melindungi otak dan sumsum tulang belakang).

Sistem Koordinasi.ppt

SISTEM KOORDINASI.doc

Sinapsis


0 komentar:

Poskan Komentar